Resmi menjadi Ayah 2 Anak

3 tahun yang lalu, saya resmi menjadi seorang ayah. Tentu saja, ada rasa senang dan sedikit tidak percaya. Bayi yang selama 5 bulan sebelumnya menendang-nendang perut ibunya, waktu itu bayi tersebut ada tepat di hadapan kami. Rasanya seperti mimpi.

Bayi itu sekarang sudah tumbuh jadi anak yang ceria. Gigi tengahnya ompong karena kebanyakan makan permen. Meskipun begitu, ia tetap menggemaskan.

Hobinya sekarang main sama anak tetangga, meskipun cukup sering pulang dalam keadaan menangis. Entah itu karena tidak ada yang mau mengalah, atau terjatuh karena terlalu bersemangat bermain.

Hatinya lembut sekali. Sedikit saja ada nada tinggi, dia akan menangis sambil bilang "nggak boleh keras-keras, abang nggak suka!" Anak yang sangat menyayangi ibunya. Ahamdulillah. Salah satu doa dalam namanya sudah diijabah: Rachmadi. Nama yang bukan hanya sekadar singkatan nama istri dan saya, tapi sebuah harapan bahwa kelak anak tersebut akan memiliki kasih sayang yang besar.


Tulisan ini sebenarnya bukan untuk membahas anak pertama saya. Hanya sedikit flashback untuk mengenang bahwa 3.5 tahun berjalan begitu cepat.

Singkat cerita, istri sedang mengandung anak kedua kami. Tanggal 21 Juli kemarin, istri mules-mules, tapi pas coba BAB tidak bisa. Mulesnya cukup konsisten, sekitar 2 jam sekali. Kami menarik kesimpulan: ini bukan mules biasa, ini kontraksi.

Setelah konsultasi dengan bidan, kami disarankan untuk pergi ke dokter kandungan.

Sorenya, kami langsung berangkat. Sesampainya di sana, seperti biasa, antrian penuh. "Pulang isya lagi ini mah," pikir saya. Saat giliran kami tiba, kami menjelaskan keluhan. Dokter kemudian memeriksa kandungan. Di layar yang cukup besar, terlihat sudah ada pengapuran di plasenta, menandakan bahwa bayi sudah siap lahir, namun berat badannya masih di bawah berat badan yang direkomendasikan dokter.

Saya dan istri sudah sepakat untuk mengambil tindakan operasi caesar lagi untuk kelahiran kali ini, karena ada kondisi medis tertentu yang menjadi pertimbangan kami.

"Saya sarankan untuk ambil tindakan sekitar akhir Juli atau awal Agustus. Sekarang, saya resepkan obat penguat dulu ya, Bu. Minumnya setengah tablet dulu aja. Kalau mules masih sering, naikkan jadi satu tablet. Kalau masih sering juga, paling cepat kita ambil tindakan 3 hari dari sekarang. Saya resepkan obatnya untuk seminggu ke depan ya," jelas dokter.

Kami berekspektasi akan lahir di sekitar awal Agustus, tapi sepertinya harus seminggu lebih cepat, jadi kami memutuskan untuk mengambil tindakan tanggal 27 kemarin. Hitung-hitung mendapat tanggal cantik: 27-07-2026, hehe.

Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Dokter bahkan sampai menguji rahim istri bagus, tidak lengket, dan masih bisa untuk satu anak lagi. Kami tertawa, padahal di hati kami "duh, dua anak dulu aja deh, satu aja udah kelimpungan".

Wajahnya mirip sekali dengan kakaknya waktu masih bayi. Hanya saja terlihat lebih mungil, karena lahir lebih cepat dua minggu dari HPL.

Alhamdulillah... Selamat datang di dunia, baby Zen. Terima kasih sudah lahir.